Hasilkan Pangan 7,5 Trilyun Rupiah, Sektor Pertanian Grobogan Potensial bagi Petani Milenial

GROBOGAN. Sektor pertanian terbukti menjadi penyangga perekonomian Kabupaten Grobogan. Tercatat sepanjang tahun 2021, produktivitas pertanian mengalami peningkatan. Jika dirupiahkan, nilai produksi tanaman pangan mencapai 7,5 Trilyun. Hal ini menandakan pertanian mampu menjadi sektor yang potensial bagi generasi milenial.

Diungkapkan oleh Sunanto, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada giat Bimbingan Teknis Petani dan Penyuluh Pertanian (7/9/2022), sektor pertanian Kabupaten Grobogan mempunyai potensi sangat besar. Ia mengajak petani milenial untuk menekuni usaha di bidang pertanian.

“Petani milenial jangan kuatir dengan pertanian. Potensinya 7,5 Trilyun. Peluang sektor pertanian terbuka lebar”, jelasnya.

Sunanto menyebutkan produksi padi tahun 2021 mencapai 800 ribu ton, tertinggi di Jawa Tengah dan peringkat 7 nasional. Selain itu, produksi jagung juga mencapai 835 ribu ton, tertinggi di tingkat nasional. Produksi kedelai mampu menembus 25 ribu ton, dengan nilai tertinggi nasional. Ditambah produksi kacang hijau mencapai 30 ribu ton.

Meskipun merupakan daerah yang cenderung sulit mendapatkan air bersih, Sunanto menyebut Kabupaten Grobogan mampu mencukupi kebutuhan beras bagi 1,85 juta jiwa penduduknya, bahkan berlebih, sehingga dapat memasok kebutuhan beras di luar Grobogan.

Di kesempatan yang sama, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang Kementan, Bambang Sudarmanto menyebutkan bahwa sektor pertanian Kabupaten Grobogan berhasil merubah reputasi pertanian yang kotor.

“Kabupaten Grobogan mampu merubah image petani itu kotor, petani itu miskin. Dengan inovasi, pertanian lahan kering dapat terus dioptimalkan produktivitasnya. Bagaimana mengefisienkan pengairan. Teknologi tetes dapat diterapkan, sehingga tidak banyak yang terbuang.” Jelas Bambang.

Memasuki era teknologi digital, Menteri Pertanian, SYL mendorong generasi milenial untuk beradaptasi dengan teknologi, “Pertanian saat ini tidak sama lagi dengan pertanian sebelumnya. Kita masuk pertanian internet of thinking, menggunakan artificial intelegent, satelit sudah main, pertanian itu keren,” ujar Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi kerap mengingatkan pentingnya sumber daya manusia (SDM) dalam upaya menopang transformasi pertanian.

“Jadi sebelum teknologi dan lainnya, yang pertama adalah SDM dulu. Mindset harus diubah, ini tugas kita bersama dalam transformasi pertanian dari yang sebelumnya pertanian tradisional menjadi modern,” ujar Dedi.

Ditambahkan oleh Firman Subagyo, anggota Komisi IV DPR RI, pangan menjadi kebutuhan yang sangat mendasar, di samping energi. Penyediaan pangan merupakan amanah konstitusi yang harus terus diupayakan. Sehingga SDM pertanian harus terus disiapkan untuk terus meningkatkan produktivitas.

“Kita sia-sia ketika kita tidak mempunyai SDM pertanian yang unggul. Tidak mempunyai manajemen, tidak mempunyai daya dukung lainnya.” Jelas Firman di depan 100 orang peserta Bimtek yang terdiri dari 75 petani milenial dan 25 penyuluh Kabupaten Grobogan. (osi/YOMA)