Jamali, Minuman Sehat Inovasi Milenial Polbangtan YoMa

November 11, 2022 |

Temanggung---Kementerian Pertanian terus mendorong generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Dengan tangan kreatifitasnya, kaum milenial akan mampu memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian.

Seperti yang dilakukan Mukhamad Bagas Kurniawan, mahasiswa program studi Agribisnis Hortikultura Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta-Megelang (YoMa) yang mengolah jahe menjadi minuman yang menyegarkan.

Bagas memanfaatkan bahan baku yang tersedia di Dusun Jurangsari, Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung menjadi produk bernilai tambah. Ia melirik jahe yang merupakan potensi wilayah dengan produksi relatif tinggi dengan menjadikan minuman sehat yang menyegarkan dengan brand Jamali.

Sebagai daerah agraris, kabupaten Temanggung mempunyai potensi pertanian yang menjanjikan. Dengan luas lahan 60,956 Ha, didukung dengan suhu udara antara 18° C – 28° C dan curah hujan antara 1.000 – 3.100 mm/tahun, membuat sebagian besar tanaman dapat tumbuh optimal.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung, jahe merupakan salah satu jenis tanaman biofarmaka yang sangat berpotensi di kecamatan Pringsurat. Hal ini terbukti dari produksi jahe yang selalu meningkat setiap tahunnya, hingga mencapai 637.500 kg pada tahun 2021.

Ternyata Jamali mendapatkan respon yang baik dari konsumen. Pasalnya, pria berusia 20 tahun ini berhasil meramu produk pertanian menjadi minuman sehat yang dikemas kekinian.

Jamali merupakan minuman wedang jahe yang dipadukan dengan madu dan lidah buaya. Keistimewaan minuman yang dibuat mahasiswa semester 5 ini adalah dengan menambahkan potongan lidah buaya.

“Menurut informasi dari BPP Soropadan, Dusun Jurangsari mempunyai potensi jahe, sehingga saya gabungkan dengan lidah buaya untuk menciptakan suatu minuman kesehatan. Sehatnya dapat, tapi tetap mengikuti tren, " tuturnya.

Bagas berkeinginan menggantikan presepsi wedang jahe sebagai jamu, menjadi minuman kesehatan yang kekinian. “Saya mau angkat bahwa jamu itu masih bisa dikonsumsi di era seperti ini dan menyehatkan. Setelah diminum, hangat jahenya, ada rasa mintnya, sehingga melegakan tenggorokan. Selain itu ada sensasi kenyal dari aloe veranya itu sendiri," kata Bagas.

Diperkenalkan pada 24 Oktober 2022 di Soropadan Agro Festival, sampai dengan saat wawancara (10/11) Jamali telah terjual 60 botol.

Berawal dari praktek kewirausahaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari, Bagas melakukan identifikasi produk selama 2 minggu.

Dengan potensi pasar yang cukup besar, mahasiswa semester 5 ini pun sangat serius menggarap Jamali. Saat ini Bagas rutin melakukan analisis peluang pasar. Dari analisanya didapatkan segmentasi pasar, sehingga Ia dapat dengan mudah melakukan penetrasi pasar sesuai dengan target yang menyukai produknya.

Melihat antusiasme pasar, Bagas mulai memproses izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan merancang diversifikasi produk lanjutan. Selain itu Ia juga rutin melakukan pengujian terhadap produk, untuk menjaga kualitas rasa.

“Semester 4 lalu, saya mendapatkan mata kuliah pengujian. Itu yang saya terapkan pada produk Jamali. Saya juga memperhatikan kebersihan alat, ruang produksi, pemilihan bahan utama, pencucian dan sterilisasi alat bahan dengan metode uap air panas," ungkapnya.

Apa yang dilakukan Bagas menunjukkan optimisme petani milenial terhadap sektor pertanian. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mengaku senang, kehadiran anak muda harus memperkokoh harapan rakyat dan memperkuat kesiapan-kesiapan yang ada dalam menghadapi tantangan global.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian,” kata Mentan Syahrul.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedi Nursyamsi menambahkan, pentingnya petani milenial sebagai socioagripreneur untuk melakukan inovasi dan mengubah mindset dengan pemanfaatan teknologi dari produksi hingga pengolahan hasil dan distribusi.

"Inovasi tidak hanya berasal dari hasil penelitian laboratorium saja tetapi juga bisa dari uji coba pengalaman para petani-petani sukses . Hal ini yang menjadi contoh untuk generasi muda pertanian lainnya. Petani yang rajin mengadopsi inovasi teknologi akan berkembang lebih maju dan modern dibandingkan dengan petani yang tidak mengadopsi teknologi," papar Dedi.

Reporter : Osi (Polbangtan Yo-Ma)
KAMPUS MAGELANG
Jl. Magelang – Kopeng KM.7 - Magelang, Jawa Tengah
Kotak Pos 152 , Kode Pos 56101
KAMPUS YOGYAKARTA
Jl. Kusumanegara No.2 Umbulharjo, Yogyakarta
(0292) - 364188
(0293) – 313032
info@polbangtanyoma.ac.id
Jam layanan : Senin - Kamis, Jam 7.30 - 16.00 WIB
Jam layanan : Jumat, Jam 7.30 - 16.30 WIB
© Copyright 2022- POLBANGTANYOMA - All Rights Reserved
Translate »
magnifierchevron-downcross-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram