Lewat Sekolah Lapang, Polbangtan Kementan dan UGM Kerjasama Masifkan PGPR

Tim Pendampingan Petani Kabupaten Boyolali yang terdiri dari Alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) dan Universitas Gajah Mada (UGM) terus lakukan upaya peningkatan kapasitas petani salah satunya yaitu dengan rutin menyelenggarakan Sekolah Lapang (SL).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melalui Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menyampaikan pentingnya penyelenggaraan SL untuk meningkatkan kapasitas petani.

“Sekolah Lapang adalah sarana penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan bagi petani. SL memberikan banyak pengetahuan yang siap diserap dan diimplementasikan langsung oleh petani,” ujar Dedi.

Berkolaborasi dengan Penyuluh setempat, penyelenggaraan SL kali ini mengangkat materi tentang pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Kecamatan Nogosari, diikuti oleh anggota gabungan kelompok tani  (Gapoktan) Bima Makmur dan dihadiri oleh tim POPT Boyolali, Petugas Penyuluh Lapangan BPP Nogosari, serta Dosen UGM.

“Kecamatan Nogosari dikenal sebagai daerah yang memproduksi beragam tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Boyolali. Namun, saat ini petani di Kecamatan Nogosari juga menghadapi tantangan penurunan daya dukung kesuburan tanah setiap tahunnya akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang terus menerus,” kata Mujahid, koordinator Penyuluh BPP Nogosari.

Penggunaan PGPR ini merupakan salah satu alternatif untuk menjawab permasalahan tersebut. Arwanti selaku koordinator Tim Pendampingan Petani wilayah Kecamatan Nogosari menjelaskan bahwa dirinya bersama tim memperkenalkan cara membuat PGPR dengan bahan-bahan yang relatif mudah didapat.

“Pertama yang harus dilakukan yaitu membuat biang PGPR. Bahannya terdiri dari cacahan akar bambu, rebung, akar putri malu, akar sere, akar alang-alang, dan akar rumput gajah. Kesemuanya direndam dalam air matang dingin selama 3 hari dan rutin diaduk agar kandungan enzim terlepas sempurna,” terang Arwanti kepada peserta yang hadir.

Setelah didapat biang PGPR, menurut Arwanti petani hanya butuh memperbanyaknya dengan media seperti bekatul untuk kemudian siap digunakan. Pengaplikasian PGPR cukup dengan cara dicampur air dan disiramkan pada tanaman.

“PGPR adalah bakteri aktif yang akan merangsang pertumbuhan akar tanaman yang berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen, dan kesuburan lahan. PGPR dapat dipalikasikan ke semua jenis tanaman,” terang Arwanti lebih lanjut.

Penyelenggaraan SL bertema PGPR ini diharapkan dapat membantu petani dalam menjaga produksi hasil panennya. Adanya PGPR ini juga dinilai dapat menjadi opsi lain bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas dengan cara yang relatif sederhana serta ramah lingkungan.

Endah Puspitojati selaku Ketua Jurusan Pertanian Polbangtan YoMa sekaligus Ketua Pelaksana Kegiatan Pendampingan menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan mahasiswa dan alumni Polbangtan YoMa bekerjasama dengan UGM bukan hanya memberikan manfaat langsung kepada  petani namun juga membawa manfaat bagi para alumni yang tergabung dalam tim.

“Dengan terjun langsung di lapangan akan mengasah dan meningkatkan keterampilan mahasiswa dan alumni dalam menggali perspektif dari masyarakat petani, penyuluh agar mendapatkan pengalaman dan juga bertujuan untuk menyukseskan program strategis Kementerian Pertanian sehingga akan memberikan kebermanfaatan bagi petani di lokasi pendampingan,” kata Endah.

Source: Geraldo A. Rimartin, S.TP, M.Sc.
-HG