Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Manfaatkan Inovasi Teknologi

Antusiasme tinggi ditunjukkan ribuan peserta pelatihan petani dan penyuluh yang diselenggarakan Kementerian Pertanian (Kementan). Khususnya pada gelombang 11 yang difasilitasi oleh Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) pada Kamis (12/8/2021).

Direktur Polbangtan YoMa Bambang Sudarmanto, yang sekaligus bertindak sebagai moderator, mengungkapkan, hingga 4 Agustus jumlah peserta mencapai rekor terbanyak dengan 169.528 pendaftar. Dari jumlah itu 5.040 di antaranya adalah penyuluh pertanian Jawa Tengah. Serta lebih dari 15 ribu petani dan penyuluh dari Provinsi DIJ.

Acara yang digelar secara daring melalui Zoom itu juga diikuti langsung oleh peserta di 543 balai penyuluhan pertanian (BPP) dan 30 pusat pelatihan pertanian pedesaan swasembada (P4S) se-Jawa Tengah. Serta 56 BPP dan 20 P4S se-DIJ. “Semua peserta mengikuti pelatihan dengan protokol kesehatan,” ujar Bambang.

Sedangkan ribuan peserta lain mengikuti pelatihan secara live streaming via kanal Youtube BPPSDMP Kementan RI.

Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengimbau para petani Indonesia terus meningkatkan kualitas produk pertanian yang kompetitif dan berdaya saing agar lebih relevan dengan kondisi saat ini. “Agar produktivitas pertanian kita tidak lagi poco-poco alias jalan ditempat. Maka pertanian kita harus maju dan mandiri. Harus swasembada dan modern,” tegasnya.

Menurut Dedi, produktivitas menjadi kunci meningkatkan daya saing pertanian nasional supaya lebih kompetitif. Itu menjadi tugas petani, penyuluh, dan seluruh rakyat Indonesia. Untuk mendongkrak produktivitas pertanian nasional agar mampu bersaing dengan negara lain.

Nah, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, kata Dedi, ada tiga kunci utama. Yakni efisiensi biaya produksi, menekan harga pokok penjualan (HPP), dan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas produksi. “Itu ciri pertanian maju,” tandas Dedi, yang juga sebagai pengisi materi pelatihan tentang pemupukan nasional.

Pemanfaatan varietas unggul seperti padi hibrida menjadi salah satu langkah pasti. Juga pemanfaatan alat mesin pertanian untuk menghemat biaya sekaligus mempercepat proses produksi. Lalu pemupukan berimbang. “Pemupukan itu harus sesuai kebutuhan tanaman dan kesuburan tanah. Secukupnya saja,” jelasnya.

Selain Dedi, pada pelatihan petani dan penyuluh gelombang 11  juga menghadirkan dua pemateri lain yang membahas tentang kredit usaha rakyat (KUR). Mereka adalah Asdep Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Kemenko Perekonomian Gede Edy Prasetya serta Siang Pristiwati Iustitite dari Bank Mandiri.

Gede Edy menjelaskan, ada 4 prioritas utama kebijakan KUR 2021. Untuk pemulihan ekonomi nasional, mendukung korporatisasi petani dan nelayan, kelompok KUR dengan skema khusus, serta integrasi pembiayaan usaha kecil mikro menengah (UMKM) lainnya. “Dengan KUR kami mendorong untuk peningkatan sektor pertanian yang lebih baik,” ucapnya.

Ada pun bidang usaha sektor pertanian yang bisa dibiayai dengan KUR terdiri atas usaha prioritas untuk mendukung swasembada maupun kesejahteraan petani.

KUR khusus kelompok pertanian diberikan kepada penyalur KUR, offtaker, collection agent (BUMDes, pengurus kelompok tani, agen pupuk/benih), kios pupuk, dan pengembang aplikasi agritech.

Saat membuka kegiatan pelatihan petani dan penyuluh pada 6 Agustus 2021 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap, ke depan petani dan kelompok tani dapat menggarap sektor hulu hingga hilir. Baik on farm maupun off farm. Meliputi pengolahan pasca panen sampai ke packaging dan trading produk. Sehingga produk pertanian bisa dilakukan lintas negara. Dengan demikian petani memiliki peluang yang lebih besar. “Kita harus tahu persaingan produk pertanian sekarang sudah lintas negara. Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan model bisnis, model bisnis, dan managemennya,” tutur Jokowi.

Sedangkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap kegiatan pelatihan pertanian bertema kredit usaha rakyat (KUR) yang diselenggarakan Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini bisa meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh pertanian. Khususnya dalam melaksanakan kegiatan agribisnis yang terstandarisasi, modern, dan marketable.

“Selain melaksanakan pendampingan dan pengawalan kegiatan agribisnis, penyuluh diharapkan juga memiliki kemampuan akademik pertanian, tata kelola pertanian, dan sebagai motivator bagi petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” pinta SYL saat pembukaan pelatihan petani dan penyuluh pertanian serta pengukuhan dua ribu duta petani milenial (DPM) dan duta petani andalan (DPA) di Bogor.

 

Source link : https://radarjogja.jawapos.com/pertanian/2021/08/12/tingkatkan-produktivitas-pertanian-manfaatkan-inovasi-teknologi/